(Bahasa Indonesia) Simposium Nasional Inovasi dan Pembelajaran Sains (SNIPS) 2016

Sorry, this entry is only available in Indonesian. For the sake of viewer convenience, the content is shown below in the alternative language. You may click the link to switch the active language.

ITB-21-22 Juli 2016 Telah diadakan Simposium Nasional Inovasi dan Pembelajaran Sains (SNIPS) 2016 yang bertempat di Aula Timur ITB. Sebanyak 402 peserta terdaftar dengan 326 abstrak pemakalah telah memeriahkan acara ini. SNIPS ini diadakan sebagai sarana berbagi informasi bagi penggiat sains seperti para guru, dosen, mahasiswa dan khalayak umum yang bergelut dengan tema inovasi dan pembelajaran sains. Area bidang SNIPS 2016 cukup luas, meliputi pembelajaran, inovasi, material, energi, instrumentasi, kebumian, teoretik, komputasi dan pemodelan.

01foto

Dr. Asril Pramutadi selaku ketua pelaksana SNIPS 2016 mengatakan bahwa SNIPS tahun ini merupakan pertemuan ide dari dari penjuru Indonesia misalnya dari Sulawesi, Jawa, Pontianak, Medan, Bengkulu, dan banyak lainnya. Diharapkan dengan diselenggarakannya simposium nasional ini, maka bisa memperkaya pengetahuan serta menjalin silaturrahmi antar peserta.

Pembicara kunci SNIPS tahun ini adalah Prof. Triyanta,Ph.D dari program studi Fisika, FMIPA ITB, dan Dr. Anggraini Barlian dari program studi Bioteknologi, SITH ITB. Menurut Prof. Triyanta, Ph.D pembelajaran sains berbasis inkuiri merupakan metode sains yang digunakan pelajar seolah membangun pengetahuan seperti yang dilakukan oleh ilmuwan dalam memahami alam semesta. Kelebihan metode ini, pelajar mampu membangun pengetahuan sekaligus memiliki sikap ilmiah. Untuk itu diperlukan guru yang mampu mempersiapkan rancangan kegiatan siswa/pelajar berbasis metode inkuiri.

02foto

Sementara itu, Dr. Anggraini Barlian memaparkan tentang fenomena penyu hijau yang memiliki umur panjang. Motivasi yang mendasari dilakukannya penelitian ini adalah kenyataan bahwa penyu dapat memiliki umur mencapai 250 tahun. Pertanyaan mendasar apakah nanti di masa depan, fenomena ini bisa menjadi solusi dari masalah penuaan dini pada manusia. Selama hampir separuh hidupnya, Dr.Anggarini berusaha mencari informasi dan melakukan penelitian untuk bisa menjawab pertanyaan tersebut. Karena penyu termasuk hewan yang dilindungi maka ia hanya bisa mengambil jaringan kulit penyu yang kemudian dikultur. Menurutnya, belajar dari fenomena alam adalah hal yang paling faktual sehingga penyu hijau bisa menjadi sumber pembelajaran yang menarik untuk memperkaya pengetahuan.

Selain itu, para pemakalah pun telah mempresentasikan idenya seperti membuat aplikasi berbasis android agar para siswa lebih memahami pelajaran, membuat modul praktikum, membuat majalah elektronik sampai melakukan demo di depan kelas. Banyak ide kreatif yang telah dibagikan pada SNIPS 2016 ini.

(Reported by Nova, edited by DI)