Menyiapkan Energi Terbarukan melalui Seminar Nasional Material 2016

ITB-Kelompok Keahlian Fisika Material Elektronik (Fismatel) FMIPA ITB menyelenggarakan Seminar Nasional Material (SNM) 2016 di Auditorium IPTEKS CC Timur ITB pada 16 April 2016. Acara yang terselenggara berkat kerja sama dengan MRS-ID (Material Research Sociecty of Indonesia), HRMI (Himpunan Riset Material Indonesia) dan HF2TI (Himpunan Fisika dan Fisika Terapan Indonesia) ini mengangkat tema “Penelitian Material di Indonesia: Antara Keterbatasan, Kreativitas, dan Kemanfaatan untuk Mendukung Pembangunan Berkelanjutan”. Acara ini diikuti oleh lebih dari 60 pemakalah dan peserta dari berbagai perguruan tinggi se-Indonesia.

im1
Banner SNM 2016 di sekitar Auditorium CC Timur ITB

Saat membuka acara, Dekan FMIPA diwakili oleh Wakil Dekan Bidang Akademik Prof. Abdul Waris yang menyampaikan beberapa hal terkait riset di bidang material, kontribusi Fisika, dan pesan untuk mahasiswa. Beliau menyampaikan bahwa prodi Fisika merupakan salah satu program studi yang paling sering mengadakan seminar, baik taraf nasional maupun internasional. “Fasilitas kita akan semakin baik. Terutama dengan adanya Gedung CAS yang akan terus ditingkatkan kualitasnya,” ujar beliau. Menurut Doktor lulusan Tokyo Institute of Technology ini, riset di bidang material amat penting bagi perkembangan dunia nanoteknologi ke depan. Hal tersebut juga berkaitan dengan ketahanan energi nasional, yang bisa dikembangkan dengan melakukan riset di bidang material. Untuk mahasiswa, beliau berpesan agar meningkatkan semangat melanjutkan studi, baik ke dalam maupun ke luar negeri. “Sekarang, makin banyak kesempatan mendapat beasiswa ke luar negeri. Bahkan LPDP sudah mengakomodasi S2 pengajaran Fisika untuk melanjutkan kuliah ke luar negeri, untuk post-doctoral juga banyak,” tutup beliau. Sambutan dosen yang fokus di bidang nuklir ini sekaligus membuka acara Seminar Nasional Material 2016.

im2
Sambutan oleh Wakil Dekan Bidang Akademik FMIPA, Prof. Abdul Waris, Ph.D

Pembicara utama pada SNM 2016 ini adalah Dr. Eng. Ferry Iskandar. Beliau menyampaikan seminar berjudul “Penelitian Material di Bidang Energi untuk Kemandirian Bangsa”. Dalam pembukaannya, “Bangsa ini terlalu bergantung pada BBM. Bahkan, dalam 50 tahun ke depan diprediksi masih akan sangat bergantung. Konsumsi listrik juga makin membengkak. Untuk itu diperlukan riset di bidang material untuk menciptakan energi-energi terbarukan yang ramah lingkungan.” Menurut Pak Ferry, secara umum metode riset material terbagi menjadi 3 tahap, yaitu harvesting, storage, dan utilization. Ketiga metode tersebut saling berkaitan untuk mendapatkan material baru, metode sintesis material yang lebih baik, atau peningkatan kualitas material yang sudah ada.

Dalam seminar itu, Dosen lulusan Kanazawa University, Jepang, ini memaparkan fokusnya pada beberapa penelitian. Di antaranya adalah pengembangan material baterai lithium ion, pengembangan terkini metode pembuatan rGO, dan komputasi desain material menggunakan Density Functional Theory (DFT). “Hal-hal tersebut tentunya banyak membutuhkan biaya, terutama alat untuk karakterisasi. Namun kita tidak boleh menyerah pada keterbatasan dana. Banyak raw material di sekitar kita yang bisa dimanfaatkan. Disitulah dibutuhkan kreativitas,” sambung beliau. Sebagai penutup seminarnya, beliau berpesan bahwa masih banyak pengembangan di bidang material yang bisa diteliti untuk menyiapkan energi masa depan. Selain itu juga perlu disiapkan SDM yang handal agar bangsa ini siap mengelola risetnya secara mandiri.

im3
Penyerahan cinderamata dari perwakilan MRS-ID Prof. Dr. Mikrajuddin Abdullah untuk Dr. Ferry Iskandar

Setelah seminar dari Pak Ferry Iskandar, acara berikutnya berupa pemaparan makalah secara paralel dari para partisipan yang telah men-submit makalahnya. Sesi paralel ini dilakukan di berbagai ruang di sekitar Auditorium IPTEKS CC Timur ITB. Di antara para peserta pemakalah, ada yang berasal dari Lampung, Semarang (UNS), dan Yogyakarta (UGM). Acara semacam ini diharapkan menjadi ajang berkolaborasi antar researcher di bidang material untuk menyiapkan Indonesia menjadi negara yang mandiri dalam bidang energi.

(Wildan)